Monolog Agama Berhala
Tidak usah bicara toleransi segala, ketika tarik ulur rebutan umat di antara para agamawan di depan rumah anda itu masih juga belum selesai. Ketika kita selalu sibuk mengkonversi orang-orang agar berlutut pada agama sendiri dan bukannya membina kerjasama dengan hangat dan tanpa curiga untuk membangun negeri , maka toleransi yang kita bicarakan hanyalah toleransi “hangat-hangat taik ayam”. Hangat dan euphoria saat terjadi kerusuhan antar umat , pembongkaran arca, penyegelan tempat-tempat ibadah dan sebagainya. Setelah itu hilang hangatnya, dan hubungan “dingin” di antara warga yang berbeda agama dan keyakinan kembali mengisi keseharian mereka.
Setelah bertahun-tahun saya asruk-asrukan, kukurusukan, keluar masuk rumah warga di pelosok, di kampung-kampung dan pinggiran, saya lebih banyak mendengar orang-orang yang kecewa dan mengeluh. Kecewa dengan aparat keparat yang korup namun mereka tidak dipotong tangannya melainkan yang terjadi justru dipotong masa hukumannya. Memang luar biasa kisah nyata di negeri yang konon berpenduduk 90% muslim ini.
Lantas siapa yang ditiru orang-orang Islam ini? Nabi Muhammad-kah? Jelas tidak. Sebab Kanjeng Nabi tidak segan-segan untuk memotong tangan puterinya jika ia ketahuan mencuri. Tidak ada keringanan apalagi membebaskan dari hukuman potong tangan. Mengapa para koruptor itu dapat “potongan” dan bukannya dipotong tangannya? Hak asasi manusia jawabnya, ---yang padahal kita tahu--- yang menjadi jawaban itu sekadar dalih semenjak ia dilempar jauh-jauh , dikucilkan dan dimusuhi sebagai paham yang tidak islami oleh orang-orang Islam itu sendiri.
Negara ini menjadi remuk karena salah manajemen, sebab ia tak diasuh, tak ada pengayoman, ia dieksploitasi oleh orang-orang yang korup seraya menggunakan agama, memantiknya dengan sehebat-hebatnya untuk mengalihkan perhatian masyarakat yang kecewa. Setelah enam puluhan tahun lebih mencecap kemerdekaan, selama itu pula eksploitasi berlangsung dan orang-orang di pinggiran dimiskinkan dan dilemahkan sehingga mentalitas yang terbentuk dalam diri mereka adalah mentalitas pengemis.
Setiap kali anda memasuki rumah mereka untuk mengumpulkan data tentang kehidupan sosial ekonomi mereka, anda akan tahu bahwa yang mereka dambakan adalah bantuan uang. Ya, uang. Orang-orang menengah ke bawah semua mengharap bantuan langsung tunai untuk mengisi saku mereka. Maka tak heran, jika suara mereka bisa begitu mudah dibeli dengan harga yang murah, di imingi janji-janji manis para politisi busuk, pemimpin korup dan agamawan karbitan untuk selanjutnya dimiskinkan kembali.
Kendati kekurangan uang, masyarakat kita terus berlomba-lomba membangun masjid dengan mengumpulkan dana di tengah jalan raya, tak peduli kebiasaannya menyusahkan para pengendara dan commuter yang lewat setiap harinya. Masjid yang hanya penuh di awal dan akhir Ramadhan saja itu selalu bertambah banyak dan dibuat mentereng. Sementara sulit sekali bagi umat pemeluk agama lain untuk beribadah dengan tenang, apalagi mendirikan tempat ibadah mereka di tengah masyarakat yang maunya menang sendiri tersebut. Kenapa sulit ? Sebab para pemeluk Islam di negeri ini memang kebanyakan tidak senang dan tidak rela dengan keberadaan, simbol, dan umat agama lain.
Tidak usah bicara toleransi segala, ketika tarik ulur rebutan umat di antara para agamawan di depan rumah anda itu masih juga belum selesai. Ketika kita selalu sibuk mengkonversi orang-orang agar berlutut pada agama sendiri dan bukannya membina kerjasama dengan hangat dan tanpa curiga untuk membangun negeri , maka toleransi yang kita bicarakan hanyalah toleransi “hangat-hangat taik ayam”. Hangat dan euphoria saat terjadi kerusuhan antar umat , pengrusakan patung, penyegelan tempat-tempat ibadah dan sebagainya. Setelah itu hilang hangatnya, dan hubungan “dingin” di antara warga yang berbeda agama dan keyakinan kembali mengisi keseharian mereka.
Ada yang membenci Barat dan mencintai Arab, ada yang membenci patung dan menyan dan mencintai tasbih dan kaligrafi, ada pula yang mencintai agamanya dan ingin menghancurkan segalanya. Hidup kita penuh dengan kebencian, dan cinta pun tidak utuh dan penuh.Kehidupan ini tidak selalu sesuai harapan, ada kelebihan dan kekurangannya namun sudah sepatutnya disyukuri. Jika Tuhan menghendaki maka dijadikannya manusia itu satu umat saja dengan agama yang sama, tetapi tidak. Umat yang tampak berbeda-beda agama dan keyakinan itu sesungguhnya satu.
Kecewa dengan polah para pemimpin yang korup dan jahat maka orang-orang kembali mengusung jargon “kembali pada teks” dan menjadikan agama semacam eskapisme dari penderitaan. Lantas kita mengagung-agungkan agama menurut selera sendiri, memperlakukan kitab “yang disucikan” seolah tak pernah salah dan memuja para tokohnya yang sudah lama mati sehingga kita lupa mempercayai yang hidup, menghormati dan menyayangi kehidupan. Kita pikir sudah relijius, padahal kita hanyalah munafik keparat yang sedang membenci ibu kandungnya sendiri. Kita sibuk mendikte kepercayaan lain dan merobohkan patung berhala di luar sana dan lupa menjadi orang baik. Padahal ada ungkapan bijak yang bilang bahwa agama yang paling baik adalah agama yang membawamu mengenal dirimu sendiri dan membuatmu menjadi orang yang lebih baik.Anda tidak perlu merobohkan patung untuk sekedar jadi orang yang baik, bukan ?[]
September 2011
arief rahman





