Facebook Twitter Friendfeed
Gratis berlangganan artikel via RSS, join sekarang!

Kalijaga Adalah Penanda Kaliyuga

Sampurasun
Saat ini bangsa Indonesia begitu gandrung dengan istilah character building hingga diberbagai lembaga pemerintahan dibuat program kegiatannya. Saya berani jamin bahwa program tersebut akan mandul dan sama sekali tidak berdaya-guna, hanya akan menjadi pemborosan sebab pembentukan watak manusia harus dibangun sejak dini dari lingkungan keluarga dan masyarakat melalui nilai-nilai asli yang sesuai dengan sumber daya negara, dan itu hanya terdapat pada “ajaran para leluhur bangsa Nusantara” yang telah teruji dalam membangun bangsa Nusantara jaman dahulu hingga mencapai puncak kejayaan. Dilain sisi pemerintah Indonesia sibuk mencari “jati-diri” bangsa yang konon telah pudar, sesungguhnya hal ini merupakan peristiwa yang menggelikan sekaligus memalukan bagi suatu bangsa… (lah kok jati diri bisa hilang?)

Sejarah dan jati-diri adalah “ruh” yang membentuk watak, cara berpikir dan perilaku suatu bangsa atau lebih dikenal dengan istilah “budaya”. Melupakan dan akhirnya kehilangan sejarah serta nilai-nilai ajaran yang dahulu diwariskan oleh para leluhur Nusantara adalah sama dengan musnahnya “jati-diri bangsa” hal itu merupakan picu keruntuhan dan kehancuran bangsa Indonesia… dan sekarang ini kita sedang menjalaninya bersama.

Catatan sejarah bangsa kita menuliskan tentang adanya gempuran pasukan Islam dari Cina Utara atau bangsa Mongol (abad XI), hingga runtuhnya Keratuan Nusantara (Majapahit) yang berdampak pada pecahnya United Kingdom of Nusantara (Pajajaran Nagara) atas jasa Gan Eng Cu (Gajah Mada) pada abad XIV.

Keruntuhan Kemaharajaan Nusantara tidak cukup hanya sampai hilangnya kedaulatan Ratu dan para Datuk yang secara sistemik senantiasa dihormati oleh rakyatnya. Maka dari itu rakyatpun harus dihilangkan rasa hormat, cinta, dan kesetiaannya terhadap:
1.      Pucuk-pucuk pimpinan di Nusantara (Rama, Ratu, Rasi / Datu)
2.      Tanah Air / Ibu Pertiwi
3.      Ajaran leluhur negeri beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya
4.      Kebanggaan serta pengetahuan atas kejayaan leluhurnya di masa lalu

Keempat inti strategi “Cuci Otak” itu perlu dan mutlak harus dilakukan untuk menuntaskan keberhasilan, sebab kesetiaan terhadap “Guru, Ratu karo Wong Tua” merupakan bagian dari ajaran yang sangat fundamental pada diri bangsa Nusantara. Namun diluar dugaan, ajaran leluhur Nusantara yang agung dan telah berumur ribuan tahun itu begitu sulit dibongkar dalam waktu singkat, apalagi masih terdapat kantung-kantung ajaran dan sejarah pada berbagai bentuk yang sulit dirobah dan digantikan; arketip, artefak, masyarakat adat serta para pecinta negeri (budak angon / cah angon).

Strategi "Cuci Otak" untuk meruntuhkan Nusantara hingga tuntas keakarnya betul-betul diluar perhitungan para penyerang, tidak seperti ketika mereka mengalahkan Kekaisaran Cina dan Rusia. Namun negara dan bangsa setangguh apapun jika digempur dari dalam (bangsa sendiri) dan dari luar pasti remuk juga, apalagi berkelanjutan dan berlangsung selama ratusan tahun.

Bangsa dan Negara Nusantara dapat bertahan hingga kini karena di dalam diri kita masih ada serbuk - serpihan ajaran para Leluhur, ajaran itu masih tersisa di dalam darah dan daging sebagai genetika religi Nusantara seperti; tata-krama, sopan-santun, dsb. Ketangguhan ini jelas-jelas menunjukan keampuhan ajaran para Leluhur Agung dan kita mampu bertahan hingga abad XXI ini. Namun demikian gempuran untuk memusnahkan ajaran leluhur Nusantara itu pada saat ini justru sedang bergerak mencapai titik puncaknya dan kelak dikemudian hari bangsa Indonesia akan mengalami masa sangat pedih yang berkepanjangan… dan itu akan dialami langsung oleh anak-cucu kita.

Dalam perhitungan ajaran Sunda maupun Hindu (Bali), Indonesia kini sedang memasuki jaman Kaliyuga yaitu jaman kegelapan atau masa kehancuran. Hal ini telah saya uraikan lewat kajian Sangu Tumpeng yang menunjukan bahwa kita sedang memasuki jaman ‘kekuasaan’ Sang Hyang Wisnu, yaitu pemusnahan ras manusia untuk menjaga keseimbangan alam yang selayaknya didominasi oleh tumbuhan dan satwa… (bukankah sebelum ada ras manusia planet bumi ini milik tumbuhan dan satwa?)

Sesungguhnya sejak kapankah bangsa kita memasuki era Kaliyuga? dan bentuk tanda apakah dimulainya jaman Kaliyuga itu?   

Sesuai dengan misi penaklukan Kemaharajaan Nusantara secara tuntas maka didatangkanlah orang-orang pintar, cerdas dan kreatif. Mereka sama sekali bukan militer namun menjadi bagian penting yang tergabung dalam politik dan strategi tempur. Walaupun pada saat itu “perang” telah usai namun “pertempuran” masih harus dilakukan (*bedakan antara perang dan tempur). Sekarang giliran rakyat yang harus ditundukan agar mereka kehilangan kecerdasannya sebagai bangsa pewaris negeri, agar bangsa Nusantara melupakan hak waris atas Tanah Air-nya.

Maka, segala hal yang berkaitan dengan “warisan” dari para Leluhur Nusantara yang agung harus dibelokan dan dikacaukan melalui berbagai cara dan usaha. Hal yang paling tepat (efektif dan strategis) tentu saja melalui “bidang kesenian” sebab bangsa kita adalah bangsa beradab dan berbudaya, bangsa yang terbiasa hidup sambil menari dan bernyanyi. Maka “wayang” adalah pilihan yang sangat jitu, sebab sejak jaman dahulu ajaran nilai-nilai agung para leluhur Nusantara senantiasa disampaikan melalui pertunjukan kesenian terutama wayang (*Jaman sekarang pertunjukan wayang itu setara dengan televisi).

Gan Si Ciang yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga adalah tokoh ahli dalam menjalankan strategi Cuci Otak dan untuk memperlancar penghacuran jati diri rakyat Bumi Nusantara itu maka dirobahlah data pribadi Gan Si Ciang termasuk garis keturunannya yang menjadi bangsa Nusantara… hehehe… merobah nama dan menuliskan garis keturunan apa susahnya… murah dan mudah. Celakanya bangsa Indonesia yang sudah berada dalam “kegelapan” mengagap bahwa hal itu benar tanpa menelusuri dan mengkaji “tanda-tanda” yang terkait dengan kesejarahan, padahal logikanya sangat sederhana, sebagai berikut :

1.      Untuk apa sebuah bangsa (negara) yang sudah beragama harus diagamakan kembali ?
2.      Untuk apa merusak kayakinan sebuah bangsa yang telah berumur ribuan tahun dan terbukti berhasil membangun menjadi bangsa yang agung ?
3.      Untuk apa nilai-nilai yang terkandung dalam dunia seni (budaya) dirobah hingga keluar dari pakemnya dan diarahkan kepada nuansa agama tertentu ?
4.      Siapakah yang berani memerintahkan untuk menghapus ajaran leluhur Nusantara di Bumi Nusantara, di rumahnya sendiri ?

Misi penggelapan sejarah dan ajaran bangsa Nusantara agar menuju kegelapan dan kehancuran itu disebut KALIYUGA, dan tugas yang berada dipundak Gan Si Ciang disimbolkan dengan sebutan KALIJAGA.

Dalam catatan sejarah Gan Si Ciang diyakini bernama Raden Mas Said putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilwatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Propaganda dan mithos, penggambaran bentuk wajah Sunan Kalijaga.
Gan Si Ciang berpendapat bahwa masyarakat Nusantara akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati Pandanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang.

Jika kita perhatikan dengan sungguh-sungguh (teliti) maka dapat ditemukan nuansa “serangan” Gan Si Ciang yang begitu halus dan cerdik (licik) melalui karya-karyanya seperti pada suluk :
1.      Lir Ilir, mengajak untuk menghapus budaya bangsa (kain dodot, bulan dan belimbing).
2.      Gundul-gundul Pacul, habisi hingga keakar-akarnya.
3.      Petruk Jadi Ratu, petruk adalah perlambang bangsa asing yang dulunya berada dalam kewilayahan Nusantara. (*Lihat Notes berjudul SANDI RAMA-RATU-RASI DALAM DUNIA WAYANG)

Jawa Barat sebagai wilayah RAMA tidak kalah cerdik, mereka menciptakan suluk untuk penangkalnya seperti :
1.      Trang-trang Kolentrang si Londok Paeh Nundutan, peringatan terjadi perang saudara.
2.      Mitos Ratu Kidul tidak suka kepada yang “berbaju HIJAU” di Pa-Labuh-an Ratu.
3.      Cepot Astra Jingga.
4.      ….dll.

Sayang, pola tanda tersebut tidak terpahami oleh putra-putri para pewaris negeri dan pada saat ini kita sedang menghadapi pengkeroposan negara dan sebentar lagi akan ambruk - remuk.

Kepada para pewaris negeri yang sah, putra-putri Ibu Pertiwi… MASA LALU itu penting untuk dikaji dan dipahami, namun yang maha penting adalah MASA DEPAN… pada saat ini kita sedang  memasuki gerbang puncak KALIJAGA / KALIYUGA yang direncanakan oleh Gan Si Ciang… mari kita bersama bersatu di bawah Panji Merah Putih (Bende-Ra) dengan ideologi Pancasila… kita semua bersaudara yang hidup di atas Bumi Nusantara…!

KITA BERJUANG DEMI MASA DEPAN SELURUH KETURUNAN KITA… DAN KITA WARISKAN BUMI NUSANTARA YANG AGUNG INI KEPADA MEREKA YANG KITA CINTAI….!!!

Neda Hampura Sapapanjangna
Rahayu Salawasna
_/|\_ Hung Ahuuung

*Lucky Hendrawan

Topik langka paling dicari

Rekomendasi Buku

Pengunjung Online