Sunda Kala-pa
Catatan :
Su = Sejati
Na = Api
Da = Agung / Besar
*Sunda = Api Sejati yang Agung (Matahari)


Nusantara Merdeka dan Berdaulat
Neda hampura sapapanjangna....
Rahayu... Rahayu... Rahayu... _/|\_
*Lucky Hendrawan
Su = Sejati
Na = Api
Da = Agung / Besar
*Sunda = Api Sejati yang Agung (Matahari)
Sampurasun.
Mungkin tidak ada yang mempertanyakan atau mungkin tidak terpikir oleh 'orang' Indonesia (*bukan manusia Indonesia), "kenapa unsur kelapa selalu ada pada hampir setiap upacara adat..? baik berupa daun kelapa maupun buah kelapanya. Pada catatan ini sedikit saya ceritakan tentang makna "kelapa" agar anda sebagai putra-putri pewaris budaya leluhur Nusantara tidak kebingungan.... maaf... :)
Entah sadar atau tidak saat ini bangsa Indonesia telah banyak merobah bahasa, kalimat, ataupun penamaan yang dahulu diciptakan oleh para leluhur Nusantara. Akibatnya adalah kita kehilangan jejak "sandi dan perlambangan" yang dititipkan pada berbagai bentuk "kata, kalimat, maupun penamaan".
Contoh kehilangan jejak akibat cara ngomong yang sok ke barat-baratan, bangsa Indonesia lebih terbiasa menyebut ..singepour.. (Singapore) ketimbang mengatakan ..singapura.. (Singhapura) yang artinya adalah "Pura Sang Hyang", dulu di bawah kekuasaan Si Singha Maharaja. Contoh lain, saat ini bangsa kita sedang gandrung mengatakan ..cayna.. (China) ketimbang menyebutkan ..cina.. (Cina), dan ribuan kata lainnya yang digunakan oleh bangsa Indonesia hasil pencurian dari milik para leluhur bangsa lain seperti dari; Arab, Inggris, Portugis, Cina, Belanda, dll... (penggunaan tanpa restu pemilik adalah MALING )
Istilah "kelapa" yang kita kenal saat ini sesungguhnya berasal dari kata Kala - Pa yang artinya :
1. Kala ---> Waktu ---> Cahaya ---> Dewa
2. Pa ---> Ruang / Tempat
... jadi Kala-Pa itu artinya sama dengan RUANG dan WAKTU... atau lebih dikenal sebagai TEMPAT DEWA (tempat para dewa). Hingga hari ini... seluruh bangsa Indonesia masih menggunakan kata "Dewa" untuk berbagai kepentingan misalnya :
1. Dewa - Sa (Dewasa)
2. Dewa - Ta (Dewata)
3. Dewa - An (Dewan)
dll.
... jadi anda tidak perlu alergi dengan istilah "dewa"... :)


Disisi lain, bentuk pohon Kala-Pa sendiri merupakan silib (umpama) dari Sang Hyang Manon / Matahari / Sunda / Ra yang merupakan Sang Guru Hyang atau Sang Guriang (Sangkuriang) atau Sang Hyang Tunggal, saat ini lebih dikenal sebagai Sang Hyang Siwa (Sang Batara Guru). Di wilayah Sunda Kecil kita masih bisa menemukan keberadaan 'agama' Siwa (Sunda / Matahari), sedangkan di masyarakat Jawa Barat yang mengaku-aku sebagai pewaris Sunda / Matahari justru hampir musnah (kondisinya mengkhawatirkan... mengaku bangsa MATAHARI tapi yang disembah BULAN... heheheh gak nyambung... :D
Dalam ber-sembah hyang (memuja dan memuji) para leluhur bangsa Nusantara senantiasa menghadap kepada Matahari yang menjadi lambang Hyang Maha Kuasa. Matahari adalah benda langit yang sangat berkuasa atas segala kehidupan mahluk di muka Bumi... jadi simbol Yang Maha Kuasa itu betul-betul asli 1000% bukan buatan manusia, tidak seperti agama-agama 'modern' yang di import dari negara asing... :) ngakunya agama langit tapi lambangnya di darat... buatan manusia pula... wahhh... gak nyambung lagi tuh... :)
Matahari (Sunda) sebagai lambang kekuasaan Yang Maha Kuasa itu umurnya lebih tua dari planet Bumi, dan segala mahluk Bumi membutuhkan dan mencintai kehadirannya (*kecuali bangsa terkutuk...). Bentuk lambang Yang Maha Kuasa tersebut tidak bisa di BOM, anti banjir, tidak perlu dijaga, tidak perlu diberi lampu, tidak perlu didatangi (datang sendiri)....tidak perlu diputari la wong muter sendiri.... sungguh lambang Yang Maha Kuasa yang sangat ideal dan tanpa tanding... tanpa cacat cela... itulah MATAHARI (Sunda)
Di negeri kita keberadaan Sang Sunda (Su - Na - Da) begitu sempurna hingga Ibu Pertiwi ini dikenal sebagai NEGERI MATAHARI (*Jepang negeri Matahari Terbit). Kesuburan yang sangat luar-biasa menyebabkan negeri kita menjadi negeri terkaya di muka Bumi yang hingga detik ini masih diperebutkan oleh seluruh dunia... itu sebabnya bangsa Indonesia harus selalu dalam keadaan bodoh.
Kecantikan dan kemolekan Ibu Pertiwi (*jaman dahulu) menyebabkan bangsa2 dari segala penjuru dunia datang berkunjung ke negara kita dengan berbagai kepentingan, dan perahu mereka bersandar di pelabuhan SUNDA KALA-PA (Negeri Matahari Tempat Para Dewata).
Nusantara Merdeka dan Berdaulat
Neda hampura sapapanjangna....
Rahayu... Rahayu... Rahayu... _/|\_
*Lucky Hendrawan





